Alasan (the last)


Dia begitu luar biasa buatku. Bukan hanya dari segi kemampuannya. Tapi juga dalam segala hal. Dalam menarikku ke dalam permainannya. Dalam setiap kata-kata flirting-nya yang memuakkan, tapi juga memabukkan. Dia membuatku menjadi kacau hingga menghancurkan segala keutuhan pikiran. Dia sita segalanya. Pikiranku. Waktuku dan hati serta perasaan. Hampir segalanya dia sita dan penjarakan. Dan aku menyukai tiap saat kecurangan itu terjadi.

Dia tampan bukan karena pemberian Tuhan. Tapi dia tampan setelah Tuhan memberikanku sebuah anugerah. Aku rasa Tuhan terpeleset hingga salah menaburkan benih cinta kepada mataku. Atau Tuhan telah memulai sebuah “game”, sebagai alat pelatihan hidup bagi diriku? Aku sudah bilang, dia tidak baik. Dan Tuhan telah memudarkan tiap-tiap keburukkannya. Dari sisa-sisa pikiranku, aku mulai berpikir, Tuhan terkadang romantis. Dia buat aku mati perlahan dalam tiap tarik-ulur yang D (dia) lakukan.

Entah Tuhan atau dia yang melakukan.

Aku tidak memiliki alasan untuk memalingkan wajah darinya. Atau aku tidak dapat membuat alasan untuk menarik kembali semua milikku yang telah ia penjarakan. Kemudian akan aku katakan bahwa aku tidak cinta, tidak rindu tidak perih. Dan Tuhan pun kembali menghukum karena aku menzalimi diriku sendiri. Tidak, aku tidak bisa berbohong padaNya, padamu, dan pada diriku sendiri.

Maka biarkan aku menulis di sini, sebuah kejujuran kecil.

Karena itu aku menulis tulisan ini. Bukan, bukanlah sebuah surat yang tak tersampaikan. Cukup, jangan lagi kita bicarakan sesuatu yang absurd. Surat tak tersampaikan, puisi patah hati da kerinduan, yang entah kapan akan ku kirim dan sampaikan. Ini hanya sebuah tulisan, sebuah perasaan yang nyata.

Karena Tuhan tidak pernah mengajariku bagaimana membuat alasan-alasan, maka menulis tulisan ini pun juga tanpa alasan. Hanya ingin. Bukan untuk perlombaan. Bukan untuk dia. Hanya ingin. Begitu pula dengan alasan apa yang harus aku lakukan untuk melepasnya. Dan alasan apa yang membuat aku harus bertahan, atau maju, atau pun mundur?

Aku tidak punya alasan yang kuat, tapi karena perkataannyalah yang membuat aku harus bergerak mundur. Bukan aku yang membuat alasan. Dan aku tidak punya alasan apapun. Satu-satunya alasan, adalah karena cinta. Dan itu bukan lagi menjadi sebuah alasan yang kuat untuk tetap bertahan. Maka aku tidak punya alasan.

Mari lupakan, tanpa alasan. Hanya ingin. ATAU MENGIKHLASKAN, tanpa alasan. Ikhlas. Tanpa alasan.

 

Advertisements

About meicaa

Meicaa is her nick. She likes writing what she thinks. She loves to read anything; comics, novels, and your posts. She is born in 1992. She is an Indonesian who loves her country so much. She loves the flag of her country; red-white flag. Indonesia is mostly amazing to her. Not only this country, but also France, Japan and Korea. So that, she has learned about french many years ago, but now she's trying to re-learn it. She loves to watch movies. As written above about those countries she likes, she also loves french movies, doramas, Korean dramas, and many more.

Posted on February 16, 2011, in Indonesian. Bookmark the permalink. 6 Comments.

  1. Hahaaa..

    alasan karna cinta, curhat di blog mhu yach xixixii..

    nais post..

    mampir yee..
    http://nanazbazie.wordpress.com/2011/02/16/mengubah-tampilan-facebook/

  2. link blog ini juga sudah saya pasang, silahkan kunjungi untuk melihatnya…

    thanks.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: