Kenapa Dia Berikan Ini?


…Aku untuk kamu, kamu untuk aku

Namun semua apa mungkin, iman kita yang berbeda?

Tuhan memang satu, kita yang tak sama

Haruskah aku lantas pergi, meski cinta tak kan bisa pergi? -Marcell-

Kita tahu, perasaan suka, rasa sayang, amarah dan cinta adalah pemberian Tuhan. Kita juga tahu itu semua merupakan anugrah terindah, yang sama sekali tidak bisa digambarkan dan dideskripsikan. Kita tahu pernah mendengar bahwa Tuhan satu-satunya yang paling adil. Kita bertemu karena Tuhan. Detak jantung kita berpacu lebih cepat, karena Tuhan berikan perasaan itu. Tapi, coba lihat lirik lagu di atas, kenapa Tuhan tidak mengijinkan keduanya untuk bersatu? Padahal Tuhan hanya ada satu.

Saya memikirkan ini sejak dua hari yang lalu. Dan sampai detik ini pun masih belum menemukan jawabannya. Kenapa Tuhan biarkan mereka berpisah hanya karena perbedaan iman? DAN KITA SEMUA TAHU (termasuk keduabelah pihak) TUHAN MEMANG SATU. Lalu timbul di benak saya, apa itu iman? Sedahsyat apa hal ini bisa merobek suatu hubungan?

Setelah saya pikir, definisi iman sendiri secara sederhana adalah “kepercayaan” (this is just my opinion). Kepercayaan untuk “bagaimana mengenal Tuhan dan bagaimana cara berkomunikasi dengan Tuhan”. Ini berarti tidak ada perbedaan diantara iman-iman tersebut. Dan iman tidak bisa menjadi benteng antara suatu hubungan. Yang menjadi benteng adalah pola pikir masyarakan kebanyakan. Bagaimana tidak? Hampir semua orang berpikir bahwa beda iman tidak bisa bersatu (menikah). Dan saya bertanya-tanya sampai detik ini;KENAPA? Padahal perbedaannya hanya pada cara kita berkomunikasi dengan Tuhan. Dan tidak tahu kenapa, saya yakin, Tuhan sendiri tidak pernah menginginkan atau bertujuan mengkotak-kotakkan segala sesuatu. Jadi kenapa selama ini kita seakan dikotak-kotakkan? 

Untuk sementara, saya berpendapat bahwa bukan Tuhan yang memisahkan mereka. Tapi kenyataan. Kenyataannya masyarakat kebanyakan berpendapat bahwa berbeda iman, tidak dapat bersatu. Dan karena ini pula, pasangan yang melanggar pendapat masyarakat kebanyakan itu akan mengalami kesulitan ketika anak mereka tumbuh dan menghadapi kenyataan yang sama. Pertanyaan saya, akankah mayoritas masyarakat akan berbalik menjadi minoritas, dan minoritas menjadi mayoritas? Umm, who knows?

Kembali lagi pada pernyataan awal, Tuhan Maha Adil dan Dia memberikan anugrah yang terindah untuk kita semua. Dan saya baru saja menyadari bahwa Tuhan memberikan rasa sakit di dalam sebuah keindahan. Atau rasa sakit itu adalah suatu keindahan pula? Saya masih tidak mengerti. Tetapi yang saya tahu, Tuhan itu adil. Dia berikan tawa dan tangis, bertemu dengan berpisah, cinta dan benci, datang dan pergi. Untuk saat ini, saya cuma tahu, bahwa Tuhan memberikan segalanya termasuk Pertemuan dan Perpisahan.

Advertisements

About meicaa

Meicaa is her nick. She likes writing what she thinks. She loves to read anything; comics, novels, and your posts. She is born in 1992. She is an Indonesian who loves her country so much. She loves the flag of her country; red-white flag. Indonesia is mostly amazing to her. Not only this country, but also France, Japan and Korea. So that, she has learned about french many years ago, but now she's trying to re-learn it. She loves to watch movies. As written above about those countries she likes, she also loves french movies, doramas, Korean dramas, and many more.

Posted on March 3, 2011, in Indonesian and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. well, bagi beberapa orang, ajaran agamanya adalah the way of life. ketika kita menikah, ada banyak sekali permasalahan di dalam rumah tangga, mulai dari yang besar-besar, seperti tentang masalah pekerjaan, studi lanjut, manajemen keuangan, sampai masalah yang sepele dan remeh, seperti kebiasaan menaruh sepatu, kebiasaan membuang baju kotor, atau kebiasaan berbicara atau tidak berbicara di meja makan. itu semua berhubungan dengan gaya hidup.

    sekarang tentang agama. terlepas dari permsalahan tentang Tuhan, agama tidak dapat dipungkiri telah menjadi jalan hidup bagi banyak orang, yang menurut mereka adalah pedoman yang tak dapat dipungkiri dan diganggu gugat. di dalam ajaran-ajaran tersebut, itu bukan hanya ajaran tentang iman, tetapi juga ajaran tentang gaya hidup. dan yang dinamakan dengan gaya hidup, dari dulu sampai sekarang pasti selalu ada yang bertentangan dengan orang yang lain. kalau gaya hidup yang dipertentangkan tentang masalah duniawi, seperti yang tadi saya bilang manajemen keuangan, atau kebiasaan meletakkan sepatu, tentu seh gak masalah, masih bisa dirembug. tapi kalau yang bertentangan itu adalah gaya hidup yang keluar dari ajaran agama? kalau yang satu bilang jangan lakukan itu, yang lain akan bilang lho ini diajarkan oleh agamaku koq..!

    buat saya, hal yang paling indah di dalam pernikahan adalah ketika saya dan satu keluarga saya bisa datang bersama-sama ke rumah ibadah dengan hati sukacita dan tanpa percekcokan, bersama-sama beribadah kepada Tuhan. sebab saya yakin, rahmat Tuhan ada atas keluarga yang berbahagia dan harmonis. dan salah satu usaha mencapainya adalah menghilangkan sebisa mungkin faktor-faktor pembuat cekcok di dalam keluarga, dan salah satunya yang sangat mungkin dihilangkan jauh sebelum menikah adalah perbedaan agama, dengan *sengaja* memilih pasangan yang memang seiman. kalau ada jalan tol, tapi kemudian memilih jalan penuh semak duri, ya apa yang hendak dikata. hehe.

    “berkeluarga aja sudah sangat banyak kesusahan koq, masa masih mau ditambah lagi dengan permasalahan perbedaan agama..”

    ini hanya komentar saya tentang artikel ini. =) nice article and thought.

  2. iya sih.. saya juga paham dengan pikiran anda. postingan di atas sebenernya hanya pikiran saya aja. saya juga belum yakin apakah saya bisa menjalani kehidupan dengan “aman” (terlepas dari maslah besar dan kecil di luar agama) dengan pasangan saya yang (misalnya) beda keyakinan.

    Yang paling saya pahami (untuk sementara) adalah rasa sayang adalah anugrah dari Tuhan. Seandainya saya menyintai seseorang yang beda keyakinan, saya pasti akan bersyukur dan bilang “thanks God”. Tapi saya sendiri belum yakin untuk hidup berdampingan dengan orang yang berbeda keyakinan (ini dalam konteks menikah).

    Makasih udah kasih komentar yang berkualitas 😀 😀 saya masih harus banyak belajar 😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: