Blog Archives

Jepang yang Hancur, Jepang yang Hebat

Japan after earthquake and tsunami by CNN

Kemarin siang, setelah hujan reda, yang sebelumnya disertai pula dengan angin yang cukup kencang, saya menyalakan TV dan secara kebetulan yang saya lihat channel berita. Saya mengira ada banjir besar yang melanda suatu daerah luar negeri. Ternyata gempa dan tsunami menghantam Jepang. Saya langsung mendengarkan dan juga sekaligus online Twitter. Dan saya langsung teringat dengan beberapa teman sesama pecinta X Japan dan Alicenine di Jepang. Tadi pagi, usai saya merapikan segala peralatan di rumah, saya membaca koran Kompas. Surat kabar ini ternyata cukup detil memaparkan segala sesuatunya tentang gempa dan tsunami di Jepang, Jumat, 11 Maret 2011.

Gempa berkekuatan 8,9 SK memicu tsunami setinggi 10 meter. Gempa cukup besar ini menghantam sebagian Jepang utara dan melumpuhkan jaringan listrik, telepon dan transportasi. Korban yang tercatat hingga kini mencapai 337 orang tewas dan 56 orang hilang. (Kompas, 11 September 2011)

Survei Geologi AS mengatakan bahwa gempa terjadi pada pukul 14.46 waktu setempat, berpusat di kedalaman 15,1 km.

Badan meteorologo Jepang mengatakan bahwa gempa ini merupakan gempa terdahsyat di Jepang dalam kurun waktu 140 tahun terakhir.

Tak lama setelah gempa berlangsung, kebakaran terjadi di 11 tempat di kota Tokyo. Dan pada saat yang sama tsunami setinggi 6 sampai 10 m menghantam beberapa wilayah Jepang utara, Kerusakan terparah terdapat di beberapa daerah antara lain Sendai dan Kota Maichi.

Berdasarkan gambar udara CNN, BBC, dan Al-Jazeera, tsunami menghancurkan hampir semua bangunan yang ada di depannya. Akibat gempa dan stunami tersebut, seluruh infrastruktur vital di Jepang utara lumpuh. Jaringan listrik dan telepon putus. Saya melihat teman saya me-RT Yoshiki, drummer X Japan. Yoshiki mengaku keadaan Tokyo sudah cukup aman, tetapi belum bisa mengabari ibunya. Ternyata, walaupun jaringa  listrik, transportasi dan telepon putus, akses internet masih bisa digunakan.  Junianto Hermawan, warga Indonesia yang tinggal di Tokyo tetap bisa berkomunikasi dengan anaknya yang pada saat itu berada di sekolah lewat Twitter ketika getaran gempa masih terasa.

Jepang memiliki kemampuan mengantisipasi dan mempersiapkan diri menghadapi bencana yang sangat baik. Stasiun TV NHK milik Jepang menyiarkan tsunami sejak mulainya gelombang pertama menyentuh pantai hingga melahap habis kota. Kompas mengatakan, ini merupakan dokumentasi terbaik tentang tsunami yang pernah dibuat. Stasiun TV NHK mengerahkan 14 helikopter dan 73 alat pengukur seismik yang dipasang di seluruh Jepang.

Dalam pengakuannya, Junianto menggambarkan secara ringkas bagaimana pemerintah dan warga/masyarakat menghadapi dan mengantisipasi gempa dengan cukup baik. “Setiap sebulan sekali, kelurahan memperingatkan kami bahwa bencana besar akan datang”, kata Junianto.

Junianto mengaku tidak terlalu khawatir dengan kondisi bangunan, karena konstruksi bangunan tahan gempa merupakan keharusan di Jepang. Pengelola gedung pun cukup update dalam mengumumkan keadaan dan cukup baik dalam melakukan inspeksi ke tiap lantai gedung.

Hebatnya, Jepang telah membangun sistem deteksi dini gempa (early earthquake warning) sejak tahun 2007. Dengan sistim ini Jepang dapat mendeteksi dan kemudian menginformasikan ke masyarakat sebelum guncangan terjadi. Indonesia kini masih dalam proses membangun alat deteksi dini tsunami.

Menurut Takeshi Koizumi, Senior Coordinator Earthquake and Tsunami Information JMA, ada dua gelombang tsunami, yaitu gelombang-P (preliminary tremor) dan gelombang-S (strong tremor). Gelombang-S menyebabkan kerusakan pada pada bangunan. Disimpulkan bahwa gelombang-P dapat menjalar lebih cepat hampir dua kali lipat gelombang-S. Dengan berfokus pada pendeteksian gelombang-S, kita dapat mengarkulasikan kapan dan berapa daya rusak gelombang-S di suatu daerah.

Saya tidak dapat membayangkan seandainya Indonesia yang mengalami bencana seperti ini, apakah Indonesia siap mengantisipasi dan menghadapi bencana-bencana alam? Apa saja yang telah disiapkan oleh pemerintah dan masyarakat dalam persiapan menghadapi dan menanggulangi bencana khususnya gempa dan tsunami? Warga Jepang telah terbiasa dan rajin mengikuti pelatihan. Mereka telah menyiapkan ransel yang diletakkan dekat pintu masuk rumah. Ransel tersebut berisi botol air, makanan kering, obat-obatan dan vitamin, P3K, uang tunai, pakaian kering, radio, senter dan beberapa baterai pengganti. Lihat! Bagaimana mereka mempersiapkan diri mereka dalam menghadapi bencana alam. Terlebih lagi, setiap tanggal 1 September, ratusan ribu warga beserta perdana mentri mengikuti pelatihan simulasi gempa.

Kekayaan Jepang sebagian diinvestasikan untuk membangun gedung-gedung dan infrastruktur yang tahan gempa. Kompas kembali memaparkan bahwa pejabat Jepang menghindari praktik korupsi dan apabila ketahuan korupsi, dengan cepat rasa malunya muncul, kemudian menarik diri dari jabatannya. Sebagai fasilitas masyarakat, pemerintah pun telah mengaktifkan peringatan gempa disetiap telepon genggam para warga.

Bagaimana dengan pejabat dan warga Indonesia? Terlepas dari benar atau tidak, bersamaan dengan berita Jepang dilanda gempa dan tsunami, Indonesia diberitakan miring oleh salah satu surat kabar milik Australia (kalau tidak salah), yang bersumber dari WikiLeaks. Saya tidak akan membahas hal ini, tetapi semoga saja pemaparan tentang dahsyatnya bencana yang melanda Jepang, juga perbandingan antara Jepang dan Indonesia dalam mengantisipasi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi bencana (dalam konteks ini gempa dan tsunami) menjadi cermin dan contoh yang cukup baik dalam berperilaku, mengenal diri kita masing-masing, dan bagaimana kita dapat survive di dalam kehidupan dengan keadaan alam yang seperti ini.

Advertisements

Sastra Melayu Tionghoa

 

Pecinan, Glodok-Indonesia

Kesusastraan Melayu Tionghoa adalah salah satu tonggak sejarah Sastra Indonesia. Sastra Melayu Tionghoa ditulis salam Bahasa “Melayu Rendah”, yang memiliki beberapa sebutan lain sperti Melayu Adoekan, Malyo Kaoem, Melayu Pasar, melayu Betawi, Melayu Cina dan Melayu Tionghoa. Antara tahun 1870-1960 terdapat 3005 karya sastra yang melibatkan 806 penulis.

 

Sejarah digunakannnya Bahasa Melayu Rendah dimulai pada tahun 1624. Pada tahun ini didirikan percetakan di Batavia untuk kepentingan VOC. Gereja Revormasi mendapatkan kekuasaan menjadi pusat penerbitan khusus untuk VOC. Baru pada tahun 1659 Kornelis Pijl mendapat laisens untuk memegang percetakan. Beliau berusaha mengeluarkan almanak (tjitboek), yaitu buku pintar tentang Batavia. Buku ini diterbitkan terbatas. Pada masa ini pula belum ada surat kabar. Sampai pada tahun 1744, terbitlah surat kabar pertama, Bataviase Nouvelle yang berisikan tentang Batavia. Dipimpin oleh Jon Erdman Jordens. Di dalam surat kabar juga ditaruh iklan-iklan.

 

Pada tahun 1816, semua surat kabar yang terbit isinya tentang pemerintahan. Tetapi surat kabar Javasche Cournant (terbit dua hari sekali) berisikan tentang cerita Jawa, berita luar negeri, dan cerita adat istiadat suku-suku yang ada di Indonesia. Pada masa ini belum ada wartawan, maka semua pekerjaan dikerjakan oleh mereka sendiri. Wartawan atau pers baru ada pada tahun 1825. Pada tahun ini pula terbitlah sebuah surat kabar baru, Bataviaasche Advertentienblad.

 

Pada tahun 1856 terbentuklah organisasi pers. Kemudian muncul jurnalis-jurnalis baru. Mereka merupakan orang-orang Belanda, tetapi bukan VOC. Jadi, kedudukannya, VOC mengawasi pers. Kemudian timbul regulasi pers. Ini berarti pers tidak perlu diawasi lagi. Pers tidak lagi dibatasi. Akibatnya surat kabar banyak yang keluar dengan bahasa selain Bahasa Belanda. Pada era ini dimulailah penggunaan Bahasa Melayu Riau Rendah dan Melayu Riau Tinggi. Penggunaan bahasa ini mulai muncul sejak dibukanya sekolah untuk kaum pribumi (Melayu Tinggi yang bangsawan). Pada tahun ini pula terbit beberapa surat kabar baru, antara lain, Soerat Kabar Malaijoe dan Bintang Oetara. Soerat Kabar Malaijoe dikelola oleh E. Fuhri (seorang mestizo). Sedangkan Bintang Oetara dikelola oleh Roorda van Eysinga (mestizo) dan anaknya WAP Roorda van Eysinga. Kelebihan surat kabar ini adalah mereka memasukkan cerita-cerita tentang hikayat dan Nabi Muhammad. Juga mengenalkan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji.

 

Kemudian sejak tahun 1870, mulai banyak bermunculan tulisan-tulisan berbahasa Melayu-Tionghoa. Tulisan-tulisan tersebut antara lain adalah Maharaja Siam di Betawi (1870), Sya’ir Jalanan Kereta Api (1890) oleh Tan Teng Kie. Kitab Eja A.B.C (1884) oleh Lie Kim Hok. Lo Fen Koei (1903) oleh Thio Tjjin Boen, dan sebuah cerpen yang cukup terkenal berjudul Bunga Roos dari Cikembang oleh Kwee Tek Hoay, yang diterbitkan pertama kali oleh Drukkerij Hoa Siang In Kok pada tahun 1927.

 

-Ditulis oleh Meicaa untuk Komunitas Jelajah-