Blog Archives

Merdeka! : Indonesia Raya (Great Indonesia) | Cyber Feeder

Indonesia Raya (Great Indonesia) | Cyber Feeder.

 

 

 

Sastra Melayu Tionghoa

 

Pecinan, Glodok-Indonesia

Kesusastraan Melayu Tionghoa adalah salah satu tonggak sejarah Sastra Indonesia. Sastra Melayu Tionghoa ditulis salam Bahasa “Melayu Rendah”, yang memiliki beberapa sebutan lain sperti Melayu Adoekan, Malyo Kaoem, Melayu Pasar, melayu Betawi, Melayu Cina dan Melayu Tionghoa. Antara tahun 1870-1960 terdapat 3005 karya sastra yang melibatkan 806 penulis.

 

Sejarah digunakannnya Bahasa Melayu Rendah dimulai pada tahun 1624. Pada tahun ini didirikan percetakan di Batavia untuk kepentingan VOC. Gereja Revormasi mendapatkan kekuasaan menjadi pusat penerbitan khusus untuk VOC. Baru pada tahun 1659 Kornelis Pijl mendapat laisens untuk memegang percetakan. Beliau berusaha mengeluarkan almanak (tjitboek), yaitu buku pintar tentang Batavia. Buku ini diterbitkan terbatas. Pada masa ini pula belum ada surat kabar. Sampai pada tahun 1744, terbitlah surat kabar pertama, Bataviase Nouvelle yang berisikan tentang Batavia. Dipimpin oleh Jon Erdman Jordens. Di dalam surat kabar juga ditaruh iklan-iklan.

 

Pada tahun 1816, semua surat kabar yang terbit isinya tentang pemerintahan. Tetapi surat kabar Javasche Cournant (terbit dua hari sekali) berisikan tentang cerita Jawa, berita luar negeri, dan cerita adat istiadat suku-suku yang ada di Indonesia. Pada masa ini belum ada wartawan, maka semua pekerjaan dikerjakan oleh mereka sendiri. Wartawan atau pers baru ada pada tahun 1825. Pada tahun ini pula terbitlah sebuah surat kabar baru, Bataviaasche Advertentienblad.

 

Pada tahun 1856 terbentuklah organisasi pers. Kemudian muncul jurnalis-jurnalis baru. Mereka merupakan orang-orang Belanda, tetapi bukan VOC. Jadi, kedudukannya, VOC mengawasi pers. Kemudian timbul regulasi pers. Ini berarti pers tidak perlu diawasi lagi. Pers tidak lagi dibatasi. Akibatnya surat kabar banyak yang keluar dengan bahasa selain Bahasa Belanda. Pada era ini dimulailah penggunaan Bahasa Melayu Riau Rendah dan Melayu Riau Tinggi. Penggunaan bahasa ini mulai muncul sejak dibukanya sekolah untuk kaum pribumi (Melayu Tinggi yang bangsawan). Pada tahun ini pula terbit beberapa surat kabar baru, antara lain, Soerat Kabar Malaijoe dan Bintang Oetara. Soerat Kabar Malaijoe dikelola oleh E. Fuhri (seorang mestizo). Sedangkan Bintang Oetara dikelola oleh Roorda van Eysinga (mestizo) dan anaknya WAP Roorda van Eysinga. Kelebihan surat kabar ini adalah mereka memasukkan cerita-cerita tentang hikayat dan Nabi Muhammad. Juga mengenalkan Abdullah bin Abdul Kadir Munsji.

 

Kemudian sejak tahun 1870, mulai banyak bermunculan tulisan-tulisan berbahasa Melayu-Tionghoa. Tulisan-tulisan tersebut antara lain adalah Maharaja Siam di Betawi (1870), Sya’ir Jalanan Kereta Api (1890) oleh Tan Teng Kie. Kitab Eja A.B.C (1884) oleh Lie Kim Hok. Lo Fen Koei (1903) oleh Thio Tjjin Boen, dan sebuah cerpen yang cukup terkenal berjudul Bunga Roos dari Cikembang oleh Kwee Tek Hoay, yang diterbitkan pertama kali oleh Drukkerij Hoa Siang In Kok pada tahun 1927.

 

-Ditulis oleh Meicaa untuk Komunitas Jelajah-