Blog Archives

Senja Datang

Senja tiba pada waktunya
Merambat dan merayap seiring bergulirnya surya
Dahina merentangkan selendangnya di angkasa,
mengahiri tarian, meninggalkan kesunyian
Tak ada riuh tepuk tangan, tak ada sorak-sorakan
Dahina pulang dan senja datang,
tanpa lambaian dan rankai bunga “selamat datang”

Pulang dari atau datang pada dunia,
tetap berbatas pada waktunya…

Advertisements

Sang Pendaki

Mencintai rembulan bagai mendaki puncak tertinggi Gunung Himalaya

Menadaki tebing tak berbatas tanpa cahaya

Tak peduli malam atau siang, aku mendaki terjal berbahaya

Aku hanya ingin kamu, jangan tanya mengapa

Dan kau di sana menungguku yang tak lagi berdaya

Dan sang pendaki pun mati

Kau, rembulan t’lah lama menahan emosi

Dan kau pun pergi

Tak apa, raja malamku

Kau takkan mungkin meminang mayat kaku

Biarkan aku mati terbunuh ragu

Sekali lagi, aku mati

Rembulan tak lagi kembali

Depok, 10 Februari 2011

17.2 3 WIB

Dedicated : Ravish Malhotra

Biarkan Aku Menjadi Abu di Hadapanmu

Kenapa hanya malan berbintang yang berkesan manis?

Kenapa hanya redup senja yang memberikan kemegahan dinamis?

Kenapa hanya saat mentari terbit, kau berjingkrak dan berjinjit?

Padahal siang pun romantis, dengan sengatnya yang seakan mengiris

Padahal kau lambaikan tangan di siang hari, kemudian tanpa menoleh kau terus berlari

Siang menjadikan malam tak berarti

Siang menyengat dan aku meresapi,

rasa perih yang tadi ditinggalkan olehmu terus kuhisapi

Panas membakarku tanpa asap,

dan kau tiba-tiba mengerjap

Tapi tunggu!

Jangan kau ragu untuk membiarkanku

Tak ada kata maaf buatku! Tak lagi kau memilki kesempatan itu

Sudah, biarkan aku terbakar menjadi abu

Dengan begitu,

kau akan mengerti, betapa romantisnya siang buatku

-Di bawah terik matahari_

Depok, 2 Desember 2010

Tak Ingin Hilang

Kupendam kekhawatiran yang getir

Kekhawatiran yang t’lah lama menyebar terbawa angin berdesir

Aku terus menunggu walau tak dapat rasa itu kuusir

Lelah tak lagi kupikir

Aku terus menunggu bagai selir

Kau tahu betapa tak inginnya aku menjadi ratu

Yang berkonotasi nomor dua bukan nomor satu

Kau tahu betapa aku merarap pada batu

Yang tergolek entah mati atau bisu

Bisu, hahaha

Aku tetap bisu

Ku tebar rasa ingin berceloteh jalang

Agar ia tak lagi ada di dalam diriku

Biar aku tetap bisu

Gagu

Tak lagi ngoceh pada batu yang entah mati atau bisu

Tak lagi ku tebar rasa rindu

Tak lagi kuperdengarkan isak yang sendu

Kubelai rinainya tiap hujan meratap

Dia menunduk padaku, menatap

aku yang tak lagi beratap

Siang yang tak lagi terang

Kusudutkan segala beban untuk selalu bilang..

Aku,

di hadapanmu,

hanya tak ingin hilang

Di tepi trotoar Margonda, Depok

21 September 2010

Hujan Berbisik

Aku pergi untukmu

Berlari pulang untuk bertemu

Berlari cepat dan terbang mengejarmu

Membentangkan sayap-sayap patah nan layu

Terbang di bawah langit yang menangis sendu

Rinai air mata mengajakku

Tangannya menggapai ingin menyentuh

Menarik hingga luluh

Menyatu dengan tangis rindu

Kutemui engkau pada waktu cahaya surya menyudut

Bahagia menyapa rindu

Aku turun, membelaimu, merengkuhmu

Menetes tepat di samping telingamu

“Aku rindu…”

Depok, 6 Juni 2010

11.17 pm